Minggu, 21 Agustus 2011

Ukhuwah Atau Menzalimi?


Saya mohon maaf sebelumnya, karena posting ini mungkin tidak seharusnya saya publikasikan di blog ini, tapi apa boleh buat, karena setitik kecurangan ataupun ketidak adilanpun wajib di luruskan, semoga postingan yang saya tujukan untuk yang mengaku berukhuwah karena Allah atau kepada kader dakwah ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama.
Sekali lagi saya minta maaf, Ini hanya opini atas pengetahuan saya yang memang masih sangat kurang, dan mohon diluruskan jika perlu.

Ya, Ukhuwah atau Menzalimi?
Saya tertarik dengan statemant seorang Ikhwan, teman saya di LDK.
Di hari itu, didalam sebuah angkot bernomor 103 sang teman tersebut menyampaikan sebuah pemahaman kepada saya, ternyata menzalimi kader itu adalah salah satu hal yang akan dapat membuat ia futur dari jalan dakwah.

Mas Bro, Kezaliman yang dimaksud diatas menyangkut dengan Ukhuwah yang selama ini erat sangat di kalangan kader dakwah. Saya sepakat dengan ukhuwah yang selama ini kita bangun, Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami), Ta’awun (Tolong Menolong) dan Takaful (Senasip dan sepenanggungan) telah cukup menjangkau segala penjuru ukhuwah. Karena tingkat tertinggi dari hal itu ialah bagaimana kita bisa berkorban kepada teman kita dengan pengorbanan yang luar biasa, memberikan apa yang paling kita cintai dan butuhkan kepada teman kita yang juga membutuhkannya, singkatnya kita harus menahan lapar ketika teman kita sangat lapar.

 Empat jempol (karena saya hanya punya 4 jempol) buat orang-orang yang selama ini telah mampu menjaga dan meningkatkan ukhuwah secara berkelanjutan. tapi saya kurang setuju dengan kezaliman yang terjadi berlebihan.

Kezaliman akan terjadi ketika seseorang berkorban terlalu sering kepada orang lain, dimana sang orang lain itu tidak pernah membayar pengorbanannya sedikitpun, alias hanya mampu mengharapkan pengorbanan temannya, tidak pernah berusaha mengorbankan. Ya sama bro, saya juga melihat dia yang berkorban itu luar biasa, karena ia telah merealisasikan ukhuwah tersebut dengan baik, dan semoga ia mampu bertahan lama tentang itu dan terus bersama dijalan dakwah. Tetapi bagaimana pandangan kita terhadap teman yang hanya mampu berharap itu? sungguh ironis ketika kita mengaku berukhuwah Islamiah namun kita hanya mendapatkan dan tidak pernah memberi sedikitpun.

Kawan, ini hanya renungan kita, bagaimana selayaknya kita berukhuwah, sudahkah kita adil dalam hal ini? atau kita tidak sadar ataupun malah sengaja membiarkan orang lain berkorban karena keterbatasankan kita. Yoook, kita renungkan sejenak kawan!!!!!
..........
..........
..........
Kawan, harus kita sadari bahwa teman kita itu adalah manusia. Saya khawatir jika terlalu berat bagi seseorang dengan pengorbanannya akan menyebabkan dia kecewa terhadap pelaku-pelaku dakwah yang hanya mampu berharap. Bukan masalah tingkat pemahaman kader yang belum matang jika ia kecewa, tetapi masalah penjagaan tidak berperan disana, padahal penjagaan itu adalah tindak lanjut dari rekrutmen dan pembinaan.

So, Ukhuwah atau hanya mampu menjadi orang yang merugikan orang lain?
Kita dapat memilih dengan bijak kawan.
Jangan sampai ketidak mampuan karena keterbatasan kita, harus memamfaatkan pengorbanan orang lain, apalagi kita merasa sang teman tidak bagus dalam ukhuwahnya jika ia tidak mau memenuhi kebutuhan kita yang kesekian kalinya.

Semoga Bermamfaat!!!!!!!
Reaksi:

0 komentar: