Selasa, 16 Agustus 2011

Seharusnya Rakyat Bukan Pelayan


Rakyat selalu menginginkan kebahagiaan........

ya, saya sangat setuju dengan ungkapan diatas, karena rakyat memang pantas dan bahkan sangat layak untuk mendapatkannya.
Rakyat seharusnya dilayani bukan pelayan. Tapi apa yang didapatkan rakyat Indonesia di kemerdekaan yang ke 66 tahun? Rakyat tidak bahagia, rakyat tidak dilayani, rakyat bahkan melayani, itulah potret hari ini.

Rakyat terlalu baik, bahkan kebaikannya terkesan berlebihan. bagaimana tidak, setelah "memberi upah"  kepada orang-orang tertentu untuk mengatur negara ini, mereka pula yang hidup dengan kemiskinan.

Kebaikan hati rakyat telah dimamfaatkan manusia-manusia istana yang notabennya orang yang berpendidikan itu, untuk mengisi lambung dengan sepenuh-penuhnya. sedangkan akibat dari terlalu baik itu, rakyat hanya mampu mengutip nasi-nasi sisa yang ada ditempat pembuangan sampah.

Inilah KEADILAN yang tercantum dalam cita-cita proklamasi.

Wahai penguasa Istana yang bergelar tinggi.
Tahukah kalian siapa yang harus diprioritaskan antara pribadi dan rakyat?
Tahukah kalian siapa yang harus dilayani antara kalian dan Rakyat?
Sangat disayangkan gelar itu jika kalian masih keliru dalam menjawabnaya.

Pak Presiden dan seluruh penghuni Istana.
Salam senyum dari kami yang saat ini memakan makanan yang ada di tempat pembuangan sampah.
Salam nyanyian gembira dari dalam perut kami.
Salam Merdeka, karena kami sudah sangat sejahtera dalam kekurangan.
Reaksi:

0 komentar: