Senin, 16 April 2012

Kebiasaan yang Keliru

Assalamu’alaikum.
Sobat muda yang saya cintai Karena Allah.

Firman Allah :

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula (QS.Az-Zalzalah : 7-8).

Sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya perkara yang halal dan haram itu jelas. Antara keduanya ada perkara-perkara syubhat (tidak jelas kehalalannya dan keharamannya) yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjaga diri dari perkara-perkara syubhat maka sungguh dia telah berhati-hati dengan agama dan kehormatannya. Barangsiapa terjatuh dalam perkara syubhat maka hal itu akan menyeretnya terjatuh dalam perkara haram, seperti halnya seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan, hampir saja dia terseret untuk menggembalakannya dalam daerah larangan. Ketahuilah bahwa setiap penguasa memiliki daerah larangan dan sesungguhnya daerah larangan Allah l adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam jasad seseorang ada sekerat daging, jika sekerat daging itu baik maka baik pulalah seluruh jasadnya. Namun jika sekerat daging itu rusak, maka rusak pulalah seluruh jasadnya, ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari, no. 52, 2051 dan Muslim no. 1599 dari An-Nu’man bin Basyir c)

Keterbiasaan terkadang menjadikan kita enak melakukan sesuatu atau dengan kata lain kita sudah tidak canggung-canggung lagi dalam melakukannya, baik itu perbuatan benar maupun perbuatan salah. Padahal kita tahu yang benar itu adalah kebenaran dan yang salah itu tetap salah, tidak ada tawar menawar.

Teman,

Alhamdulillah jika hari ini kita sudah terbiasa dengan ibadah dan segenap kebaikan lainnya, baik itu besar maupun kecil. Namun yang menjadi catatan penting apakah kita masih terbiasa juga melakukan dosa-dosa?
Ingat wahai saudaraku, sekecil apapun dosa yang biasa kita lakukan akan tetap Allah catat sebagai bentuk sebuah kesalahan yang harus kita pertanggungjawabkan (lihat : Q.S. Az-Zalzalah : 8)

Ust. Tifatul Sembiring pernah mengatakan dalam sebuah taujihnya di Mesjid Agung Medan “sebutir  biji bayam yang hitam jatuh ditengah malam yang gelap, hujan dan badai, tidaklah luput dari penjagaan Allah” -begitu kurang lebih kata beliau. Ini menunjukkan bahwasannya betapa telitinya Allah Subhanahuwata’ala. Sekecil apapun kebaikan maupun kesalahan pastinya juga bukan perkara yang sulit untuk Allah catat.

Kawan, saya mau mengajak teman-teman semua mari kita coba meninggalkan dosa-dosa besar dan mengupayakan juga meninggalkan kebiasaan-kebiasaaan yang mungkin menimbulkan dosa-dosa kecil. Misalnya memakai sandal orang lain tanpa izin (biasa terjadi di masjid) untuk sekedar berwudhu atau memakai peralatan mandi orang lain tanpa izin juga. Karena hal-hal kecil itulah nantinya yang membuat kita terhambat mendapatkan cinta Allah.
Reaksi:

0 komentar: