Rabu, 17 Agustus 2011
Arsenal Football Club
Arsenal Football Club, sebuah club sepak bola yang bermukim ditanah britania, London Utara. saya yakin jika anda seorang pecinta sepak bola pastinya tahu sedikit banyaknya tentang Arsenal FC.
Ya, Arsenal adalah club sepakbola yang diisi oleh pemuda-pemuda dari beberapa negara yang rata-rata berusia 23-24 tahun, sebuah usia yang relatif muda untuk kompetisi kelas dunia dan mampu bersaing dengan club-club besar layaknya Manchester United, Barcelona, Manchester City, Inter milan dan Chelsea..
Sebuah apresiasi luar biasa dari saya sebagai seorang fans berat Arsenal FC terhadap proses pembinaan yang dilakukan oleh club, bagaimana tidak club telah mampu mencetak pemain-pemain muda menjadi bintang di dalam lapangan dan diperebutkan tim-tim besar seperti Manchester United, Barcelona, Manchester City dan Chelsea.
Sebuah kebiasaan yang menarik dari club ini ialah lebih memilih pemain muda berbakat dengan harga murah ketimbang pemain bintang yang harganya selangit. ini bukan masalah pelit, karena club ini merupakan club sepakbola yang masuk kedalam 5 besar dari daftar club terkaya didunia. Saya sebgai fans lebih melihat dari sisi bagaimana memanajemen ekonomi club.
Club yang berjulukan The Young Gun ini memang masih banyak belajar, puasa gelar yang sudah 6 tahun adalah bukti dari perlunya proses tersebut, sebagai seorang fans saya yakin akan melihat Arsenal mengangkat trofi Primier League atau Liga Champion dengan pemain termuda sepanjang sejarah.
Ini luar biasa......
Selasa, 16 Agustus 2011
Seharusnya Rakyat Bukan Pelayan
Rakyat selalu menginginkan kebahagiaan........
ya, saya sangat setuju dengan ungkapan diatas, karena rakyat memang pantas dan bahkan sangat layak untuk mendapatkannya.
Rakyat seharusnya dilayani bukan pelayan. Tapi apa yang didapatkan rakyat Indonesia di kemerdekaan yang ke 66 tahun? Rakyat tidak bahagia, rakyat tidak dilayani, rakyat bahkan melayani, itulah potret hari ini.
Rakyat terlalu baik, bahkan kebaikannya terkesan berlebihan. bagaimana tidak, setelah "memberi upah" kepada orang-orang tertentu untuk mengatur negara ini, mereka pula yang hidup dengan kemiskinan.
Kebaikan hati rakyat telah dimamfaatkan manusia-manusia istana yang notabennya orang yang berpendidikan itu, untuk mengisi lambung dengan sepenuh-penuhnya. sedangkan akibat dari terlalu baik itu, rakyat hanya mampu mengutip nasi-nasi sisa yang ada ditempat pembuangan sampah.
Inilah KEADILAN yang tercantum dalam cita-cita proklamasi.
Wahai penguasa Istana yang bergelar tinggi.
Tahukah kalian siapa yang harus diprioritaskan antara pribadi dan rakyat?
Tahukah kalian siapa yang harus dilayani antara kalian dan Rakyat?
Sangat disayangkan gelar itu jika kalian masih keliru dalam menjawabnaya.
Pak Presiden dan seluruh penghuni Istana.
Salam senyum dari kami yang saat ini memakan makanan yang ada di tempat pembuangan sampah.
Salam nyanyian gembira dari dalam perut kami.
Salam Merdeka, karena kami sudah sangat sejahtera dalam kekurangan.
Merdeka Untuk Rakyat? Atau Untuk Istana?
Merdeka!!!!
Mungkin itulah ucapan yang sering kita gaungkan pada tanggal 17 Agustus. Namun makna dari gaungan tersebut tidak pernah kita pertanyakan.
Mungkin itulah ucapan yang sering kita gaungkan pada tanggal 17 Agustus. Namun makna dari gaungan tersebut tidak pernah kita pertanyakan.
Siapa yang merdeka?
Apakah benar2 kita seluruh rakyat Indonesia sudah merdeka?
Apakah benar2 kita seluruh rakyat Indonesia sudah merdeka?
Atau yang merdeka hanya partai yang berkuasa? (sorry, sedikit bawa-bawa partai)
66 Tahun silam tanah ini di ikrarkan kebebabasannya dari segenap penjajahan serta kemudian membentuknya menjadi bangsa yang taat, adil, beradap, bersatu, merakyat serta kestabilan sosial, sebagaimana yang dicantumkan dalam jiwa garuda yang menjadi icon bangsa, Pancasila.
66 tahun bukanlah waktu yang singkat, 66 Tahun bukanlah waktu yang kurang untuk mewujudkan cita-cita proklamasi tersebut, 66 Tahun itu bukanlah sekejap mata kawan.
Rakyat dibutakan dengan kata-kata "Merdeka", rakyat bahkan menjadi orang yang paling bersemangat dan lantang menyuarakan "Merdeka". Tapi malangnya rakyat hanya mendapatkan itu, hanya itu, hanya kemerdekaan yang dibungkus dalam sebuah kata "Merdeka".
Kesan ataupun makna yang menguntungkan hanya mampu dinikmati segelintir orang, yaitu mereka yang mendapatkan "Istana".
Dan apa yang lihat apa yang rakyat ini dapatkan?
Apa salah jika saya mengatakan merdeka itu tidak untuk rakyat????
Saya mohon maaf jika ada yang tidak sepakat.
Kadang-kadang saya heran sama penghuni-penghuni Istana itu, mereka mengakui dengan mulutnya bahwa mereka adalah wakil rakyat, rakyat yang mengaji mereka, rakyat yang telah memilih mereka. Tetapi sayangnya, lagi-lagi rakyat hanya mampu membangga-banggakan ucapan itu. rakyat ini terlalu bodoh untuk dibodo-bodohi mereka.
Rakyat tetaplah rakyat dan wakil rakyat berubah menjadi penguasa mutlak.
Rakyat hanya menikmati penghasilan 15 ribu per hari, sedangkan pemimpin bangsa mengeluh akan kekurangan gaji yang mencapai puluhan juta.
Rakyat bersyukur gubuk kecilnya tidak di gusur, sedangkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya di DPR meminta gedung lain yang mewah lengkap dengan kolam renang.
Tidakkah ia malu?
Atau memang tidak memiliki rasa?
Mudah-mudahan mereka akan mendapatkanapa yang mereka inginkan (suara rakyat dari dalam hati)
Menurut saya inilah kemerdekaan yang mampu didapatkan bangsa ini selama 66 tahun.
Luar biasa.
Senin, 15 Agustus 2011
Istiqomah Terhadap Waktu
17.08
3 comments
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata:
"Mengapa aku tidak melihat hud-hud1094,
apakah dia termasuk yang tidak hadir?.(27:20)
Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras
atau benar-benar menyembelihnya
kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang".(27:21)
Qs.An Naml : 20-21
---------------------------------------------
Ayat diatas mengisahkan tentang kedisiplinan Nabi Sulaiman a.s. Dimana pada saat Nabi Sulaiman a.s mengumpulkan dan mengatur dengan tertib bala tentaranya yang terdiri dari golongan jin, manusia dan burung. Pada saat itu Nabi Sulaiman tidak melihat burung hud-hud (sejenis burung pelatuk), maka beliau langsung bersiap memberi hukuman jika ia datang dengan alasan yang tidak jelas.
Kisah diatas sepatutnya menjadi pelajaran bagi kita betapa pentingnya sebuah kedisiplinan yang selama ini sungguh sangat "luar biasa" di tanah merah putih ini.
Teman, ini adalah salah satu titik lemah kita saat ini, membiasakan diri agar tepat waktu sangat sulit untuk kita lakukan.
Seorang hamba Allah yang mengikrarkan diri sebagai seorang muslim sepatutnya sudah mampu menerapkan hal ini pada dirinya dengan serius.
Teman, bukan hanya diri kita yang dirugikan akibat ketidakdisiplinan kita, tetapi kita akan merugikan orang lain yang selama ini istiqomah dengan kedisiplinnya.
Apakah kita akan ingin menjadi orang yang selalu memberikan kekecewaan bagi orang lain?
Bayangkan, ketika kita hadir terlambat pada suatu kegiatan atau bahkan pada sebuah syura (rapat), maka kegiatan tersebut akan amburadur dengan agenda yang sulit untuk ditata kembali.
rasakan betapa kecewanya teman-teman kita yang lain, yang selama ini istiqomah dalam waktunya, bayangkan betapa banyak waktu dia terbuang hanya untuk menunggu kita yang selalu menjadi langganan keterlambatan.
Jika memang kita tidak sanggup menjadi orang yang bermamfaat bagi orang lain, maka setidaknya kita menjadi orang yang tidak merugikan orang, bukankah itu kalimat yang adil???
So, terserah dengan masa lalu, yang terpenting kini dan nanti. mari sama-sama kita rubah kepedulian kita terhadap hal ini, kokohkan hati kita untuk mulai menghargai waktu. Setidaknya kita mampu menghargai waktu orang lain, jangan buat mereka menunggu.
Minggu, 14 Agustus 2011
Tamu Bagi seorang Sahabat Rasul Saw.
Sebuah perbandingan dan wujud keimanan seorang kepada Allah dan keimanannya kepada hari akherat adalah tatkala ia mampu memberikan pelayanan yang terbaik dan menghormati tamunya. Itulah sebuah timbangan yang Rosulullah sampaikan, di dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Dari Abu Hurairoh ra Rosulullah bersabda: ”
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
============
Suatu hari seorang sahabat rosulullah Abu Tholhah dan istrinya belum sedikitpun mencicipi makanan. Rasa lapar mendera perut mereka. Siang itu Abu Tholhah memang tidak mendapatkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seperti hari biasanya, sudah sangat sering hal itu terjadi. Ketika senja tiba Rosulullah kedatangan seorang tamu. Rosulullah menanyakan kepada istrinya Aisyah, ”Apakah kita mempunyai sedikit makanan untuk menjamu tamu kita”? Aisyah menjawab : ”Kita tidak punya apa-apa wahai Rasulullah”. Lalu Rosulullah menanyakan kepada istri-istrinya yang lain. Namun jawaban mereka seperti halnya juga jawaban Aisyah ra. Lalu Rosulullah bertanya kepada para sahabatnya: ”Siapakah yang bersedia menjamu tamuku pada malam hari ini?”
Tanpa menunggu-nunggu ada di antara para sahabat yang mengangkat tangan mengatakan kesediaan mereka. Seorang sahabat mengatakan: ”Saya Wahai Rosulullah”. Ia Abu tholhah ra. Lalu setelah sholat isya Abu Tholhah pulang bersama tamunya. Ketika tiba di rumahnya Abu Tholhah meminta istrinya untuk menyiapkan makan malam. Dengan sedih istrinya menjawab : ”Kita tidak punya apa-apa wahai suamiku kecuali sedikit makanan untuk anak kita”. Setelah Abu tholhah berpikir sejenak ia berkata kepada istrinya: ”Tidurkan anak kita, lalu siapkan makan malam buat tamu kita, ketika akan makan, lalu padamkanlah lampu”. Ketika tamu Abu Tholhah akan makan, lampu dipadamkan lalu Abu Tholhah mengecap-ngecapkan mulutnya seakan ikut makan bersama tamunya. Setelah makan lalu Abu Tholhah mengantarkan tamunya untuk beristirahat.
Begitu shubuh tiba mereka sholat shubuh berjamaah di masjid Nabawi, ketika melihat Abu tholhah Rosulullah tersenyum lalu berkata: ”Wahai Abu Tholhah Sesungguhnya Allah amat kagum melihat apa yang telah engkau perbuat tadi malam”.
---------***----------
Sabda Rasul Saw. :
“Barang siapa yang meringankan satu penderitaan dari seorang mukmin di dunia Allah akan meringankan beban penderitaannya di akherat. Siapa yang memudahkan kesusahan orang di dunia, Allah akan mudahkan kususahannya di dunia dan akherat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, jika ia menolong saudaranya. (HR. Muslim).
dikutip dari : www.ikadi.or.id
Jumat, 05 Agustus 2011
"Crazy Hospital" Jadikan Julukan LDK Kita
Assalamualaikum.........Teman, ini sebuah tulisan saya pertama di blog ini tentang LDK atau yang biasa kita baca Lembaga Dakwah Kampus, semoga bisa bermamfaat.:)
"Rumah Sakit Jiwa" (Entah iya itu artinya) Julukan LDK kita kawan (ini hanya opini saya, jika ada yang keberatan tidak usah merasa tersinggung). Mungkin sebelum anda menghakimi saya, anda akan bertanya kenapa saya mengatakan "Rumah Sakit Jiwa" Jadikan Julukan LDK Kita?
Ya, disini saya menyarankan agar kita menjadikan LDK kita sebagai sebuah "Rumah Sakit Jiwa". Hal ini dapat menjadi salah satu tolak ukur LDK kita mulai berkembang atau patut diperhitungkan (menurut saya).
Kenapa.....?????
Sebuah LDK yang mulai berkembang atau mupuni seharusnya sudah menjadi wadah untuk penyembuhan bagi "orang-orang gila". Tidak hanya mampu menjadi wadah bagi mereka-mereka yang hanif, lugu dan pendiam, tetapi LDK sudah harus mampu menjadikan mereka yang selama ini terdeteksi "Kreak dengan Tingkahnya", Kacau dengan Pergaulannya serta amburadur dengan Ibadahnya, menjadi orang-orang yang akan berdiri dibarisan terdepan di jalan dakwah ini.
Maaf, saya tidak bermaksud untuk tidak menghiraukan mereka yang selama ini terlihat "kurang gila". Karena menurut saya, mereka yang hanif, lugu, pendiam dan lain sebagainya itu sudah barang pasti menjadi peluang kita untuk dapat mengajak mereka melangkah bersama kita. Tetapi mereka yang masih sangat "gila" juga harus mampu kita jadikan patner kita, inilah bagian lain dari peluang, yang saya sebut Tantangan.
Maaf, saya tidak bermaksud untuk tidak menghiraukan mereka yang selama ini terlihat "kurang gila". Karena menurut saya, mereka yang hanif, lugu, pendiam dan lain sebagainya itu sudah barang pasti menjadi peluang kita untuk dapat mengajak mereka melangkah bersama kita. Tetapi mereka yang masih sangat "gila" juga harus mampu kita jadikan patner kita, inilah bagian lain dari peluang, yang saya sebut Tantangan.
Kawan, mereka semua sama-sama mempunyai potensi yang luar biasa dan juga memiliki hak yang sama.
So, jika kita merasa apa yang kita jalani selama ini di LDK adalah sesuatu yang sangat luar biasa, maka biarkanlah mereka merasakannya juga.
Jadikan mereka yang hanif, lugu, pendiam dan lain sebagainya sebagai peluang, dan mereka yang "gila" sebagai tantangan.
Jika berhasil, mereka yang "gila" akan sembuh dari "penyakit gilanya", dan LDK kita sudah sepatutnya bergelar A Crazy Hospital.......Go...go...go.......
Jumat, 01 Juli 2011
Berbagi: Memudahkan Masalah kawan
Teman, aku ingin berbagi tentang sebuah pengalaman yang menakjubkan.
Aku memiliki banyak masalah yang masalahnya menurutku menjurus ke satu persoalan.
Masalah ini sudah berlangsung entah sekian lamanya, mungkin semenjak aku masuk kuliah 2009 silam aku sudah harus terjerumus kemasalah itu, sampai dengan hari ini.
Teman, Hari demi hari telah aku lalui, kadang aku sengaja menghabiskan waktu diluar rumah (baca: kos/kontrakan) untuk melupakan masalah-masalah itu. Baik itu jalan-jalan ataupun berkumpul bersama teman-teman, terkhusus teman LDK tercinta, terkadang kuga aku menulis masalah itu menjadi sebuah cerita, meskipun setelah itu aku hapus kembali.
Teman, aku berpikir sangat sulit untuk menyelesaikan masalah iini, karena aku memiliki usia yang lebih muda dengan orang-orang yang akan ku hadapi jika aku ingin menyelesaikan masalah itu.
Hanya menyemangati diri dengan tekat “Suatu saat aku akan menyelesaikannya dan merubah segalanya”
Itu tekat, sekaligus impianku, yang harus aku dahulukan daripada sekian banyak impian ku yang lain.
Teman, semalam telah terjawab, aku berbagi masalah tersebut dengan seseorang yang pernah mendapatkan masalah yang hampir sama dengan yang sedang aku hadapi. Dan hingga saat ini orang tersebut sedang dalam tahap pemulihan masalahnya setelah kira-kira setahun yang lalu dia mendapatkan klimaks dari masalahnya. Merupakan sebuah masalah yang butuh waktu panjang teman.
Malam mulai larut, dan kami berbagi tentang masalah-masalah kami, dia mengambarkan bagaimana masalahnya dan bagaimana dia menyelesaikannya, hingga muncul sebuah evaluasi dari masalahnya yang harus aku lanjutkan dan aku perbaiki untuk menyelesaikannku.
Sempat bergetar bahkan rasa cemas yang luar biasa, melihat rumitnya masalahnya. Apalagi setelah aku menyampaikan masalahku, “sebuah masalah yang berat, yang memang aaku yang harus menyelesaikannya”, itulah kalimat yang dapat kusimpulkan dari tanggapannya terhadap massalahku.
Kata semangat dan saran terus dia berikan, optimisme dan harapan dia bangun, pengalaman dan arahannya terasa begitu membantuku kawan.
Satu pertanyaan yang sangat berharga muncul dari percakapan kami semalam, “kapan aku akan siap untuk menyelesaikan masalah itu? Atau mau setelah seseorang yang selama aku sayangi menjadi korban?”
Pertanyaan yang menyesakkan kawan, cukup untuk menendang hati dan perassaan ini, menyadarkan seluruh saraf-saraf di otak dan membakar seluruh tubuh.
Teman, aku terdiam……
…………
Hasilnya :
“AKU SIAP MENGHADAPI MASALAH INI SEKARANG!!!!!!!!”
Sebuah optimism yang kuharap tidak berlebihan kawan……..
Aku ingin semester depan masuk kuliah dengan tanpa beban……..
Aku ingin beraktifitas secara total tanpa memikirkan semua permasalahan-permasalahan itu kawan………
Aku ingin melihat mimpiku, mimpi utamaku “SUKSES”…….
Dan aku ingin merancang strategi lain, menyelesaikan impianku yang lain……….
Doakan teman………….!!!!
Semoga langkah2ku dalam menyelesaikan masalah ini adalah rahmad dari-Nya dan menjadi awal perubahan yang sebagaimana Allah kehendaki.
Teman, semoga catatan ini bermamfaat, dan menjadi pembelajaran bagi kita, terkadang tidak baik jika kita memendam permasalahan hanya didalam diri sendiri, namun aka nada solusi dan semanagat ketika kita berbagi dengan yang lain…..
Inilah nikmatnya Ukhuwah teman………..
Ukhuwah sehangat Mentari…. Dahsyat!!!!














