Akhlak

Ibaratkan AKHLAK itu ialah kopi dan manusia dibaratkan sebuah gelas, maka ketika gelas diisi dengan kopi jadilah ia "segelas kopi" dan jika diisi dengan racun, jadilah ia "segelas racun". Begitu juga dengan manusia, jika diisi dengan akhlak yang mulia, maka jadilah ia seorang yang mulia, begitu juga sebaliknya.

Berbagi Itu Indah, Berbagi itu GUE BANGET

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui(Q.S.At-Taubah:103).

Jalan Dakwah

Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.

Ya', Ini Kebutuhan bukan Keterpaksaan

Dan tersenyumlah dengan perjuangan hari Ini, Hari esok akan lebih cerah, PASTI!!!

UKMI Ar-Rahman Unimed

Tempat menempa jiwa, memulai perubahan dan siap menggenggam peradaban untuk hidup umat manusia yang lebih baik. Ini mimpiku kawan!

Tampilkan postingan dengan label Istana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2011

Seharusnya Rakyat Bukan Pelayan


Rakyat selalu menginginkan kebahagiaan........

ya, saya sangat setuju dengan ungkapan diatas, karena rakyat memang pantas dan bahkan sangat layak untuk mendapatkannya.
Rakyat seharusnya dilayani bukan pelayan. Tapi apa yang didapatkan rakyat Indonesia di kemerdekaan yang ke 66 tahun? Rakyat tidak bahagia, rakyat tidak dilayani, rakyat bahkan melayani, itulah potret hari ini.

Rakyat terlalu baik, bahkan kebaikannya terkesan berlebihan. bagaimana tidak, setelah "memberi upah"  kepada orang-orang tertentu untuk mengatur negara ini, mereka pula yang hidup dengan kemiskinan.

Kebaikan hati rakyat telah dimamfaatkan manusia-manusia istana yang notabennya orang yang berpendidikan itu, untuk mengisi lambung dengan sepenuh-penuhnya. sedangkan akibat dari terlalu baik itu, rakyat hanya mampu mengutip nasi-nasi sisa yang ada ditempat pembuangan sampah.

Inilah KEADILAN yang tercantum dalam cita-cita proklamasi.

Wahai penguasa Istana yang bergelar tinggi.
Tahukah kalian siapa yang harus diprioritaskan antara pribadi dan rakyat?
Tahukah kalian siapa yang harus dilayani antara kalian dan Rakyat?
Sangat disayangkan gelar itu jika kalian masih keliru dalam menjawabnaya.

Pak Presiden dan seluruh penghuni Istana.
Salam senyum dari kami yang saat ini memakan makanan yang ada di tempat pembuangan sampah.
Salam nyanyian gembira dari dalam perut kami.
Salam Merdeka, karena kami sudah sangat sejahtera dalam kekurangan.

Merdeka Untuk Rakyat? Atau Untuk Istana?





Merdeka!!!!
Mungkin itulah ucapan yang sering kita gaungkan pada tanggal 17 Agustus. Namun makna dari gaungan tersebut tidak pernah kita pertanyakan.
Siapa yang merdeka?
Apakah benar2 kita seluruh rakyat Indonesia sudah merdeka?
Atau yang merdeka hanya partai yang berkuasa? (sorry, sedikit bawa-bawa partai)

66 Tahun silam tanah ini di ikrarkan kebebabasannya dari segenap penjajahan serta kemudian membentuknya menjadi bangsa yang taat, adil, beradap, bersatu, merakyat serta kestabilan sosial, sebagaimana yang dicantumkan dalam jiwa garuda yang menjadi icon bangsa, Pancasila.

66 tahun bukanlah waktu yang singkat, 66 Tahun bukanlah waktu yang kurang untuk mewujudkan cita-cita proklamasi tersebut, 66 Tahun itu bukanlah sekejap mata kawan.

Rakyat dibutakan dengan kata-kata "Merdeka", rakyat bahkan menjadi orang yang paling bersemangat dan lantang menyuarakan "Merdeka". Tapi malangnya rakyat hanya mendapatkan itu, hanya itu, hanya kemerdekaan yang dibungkus dalam sebuah kata "Merdeka".
Kesan ataupun makna yang menguntungkan hanya mampu dinikmati segelintir orang, yaitu mereka yang mendapatkan "Istana".


Dan apa yang lihat apa yang rakyat ini dapatkan?



Apa salah jika saya mengatakan merdeka itu tidak untuk rakyat????
Saya mohon maaf jika ada yang tidak sepakat.

Kadang-kadang saya heran sama penghuni-penghuni Istana itu, mereka mengakui dengan mulutnya bahwa mereka adalah wakil rakyat, rakyat yang mengaji mereka, rakyat yang telah memilih mereka. Tetapi sayangnya, lagi-lagi rakyat hanya mampu membangga-banggakan ucapan itu. rakyat ini terlalu bodoh untuk dibodo-bodohi mereka.
Rakyat tetaplah rakyat dan wakil rakyat berubah menjadi penguasa mutlak.

Rakyat hanya menikmati penghasilan 15 ribu per hari, sedangkan pemimpin bangsa mengeluh akan kekurangan gaji yang mencapai puluhan juta.
Rakyat bersyukur gubuk kecilnya tidak di gusur, sedangkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya di DPR meminta gedung lain yang mewah lengkap dengan kolam renang.

Tidakkah ada rasa iba dari penghuni istana itu?
Tidakkah ia malu?
Atau memang tidak memiliki rasa?

Mudah-mudahan mereka akan mendapatkanapa yang mereka  inginkan (suara rakyat dari dalam hati)

Menurut saya inilah kemerdekaan yang mampu didapatkan bangsa ini selama 66 tahun.
Luar biasa.