Akhlak

Ibaratkan AKHLAK itu ialah kopi dan manusia dibaratkan sebuah gelas, maka ketika gelas diisi dengan kopi jadilah ia "segelas kopi" dan jika diisi dengan racun, jadilah ia "segelas racun". Begitu juga dengan manusia, jika diisi dengan akhlak yang mulia, maka jadilah ia seorang yang mulia, begitu juga sebaliknya.

Berbagi Itu Indah, Berbagi itu GUE BANGET

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui(Q.S.At-Taubah:103).

Jalan Dakwah

Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.

Ya', Ini Kebutuhan bukan Keterpaksaan

Dan tersenyumlah dengan perjuangan hari Ini, Hari esok akan lebih cerah, PASTI!!!

UKMI Ar-Rahman Unimed

Tempat menempa jiwa, memulai perubahan dan siap menggenggam peradaban untuk hidup umat manusia yang lebih baik. Ini mimpiku kawan!

Kamis, 10 Februari 2011

PENGARUH KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN

TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRAFO DISTRIBUSI


 

Julius Sentosa Setiadji1, Tabrani Machmudsyah2, Yanuar Isnanto

1Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Petra

2PT. PLN(Persero) Distribusi Jawa Timur

email : julius@petra.ac.id,


 

Abstrak

Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan penyebab ketidakseimbangan tersebut adalah pada beban-beban satu fasa pada pelanggan jaringan tegangan rendah.

Akibat ketidakseimbangan beban tersebut muncullah arus di netral trafo. Arus yang mengalir di netral trafo ini menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah.

Setelah dianalisa, diperoleh bahwa bila terjadi ketidakseimbangan beban yang besar (28,67%), maka arus netral yang muncul juga besar (118,6A), dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah semakin besar pula (8.62%).


 

Kata kunci : Ketidakseimbangan Beban, Arus Netral, Losses


 


 

Abstract

The unbalanced load in electric power distribution system always happen and it is caused by single phase loads on low voltage system.

The effect of the unbalanced load is appear as a neutral current. These neutral current cause losses, those are losses caused by neutral current in neutral conductor on distribution transformers and losses caused by neutral current flows to ground.

In conclusion, when high unbalanced load happened (28,67%), then the neutral current that appear is also high (118,6 A), ultimately the losses that caused by the neutral current flows to ground will be high too (8,62%).


 

Key words :
Unbalanced Load, Neutral Current, Losses


 

Pendahuluan


 

Dewasa ini Indonesia sedang melaksanakan pembangunan di segala bidang. Seiring dengan laju pertumbuhan pembangunan maka dituntut adanya sarana dan prasarana yang mendukungnya seperti tersedianya tenaga listrik. Saat ini tenaga listrik merupakan kebutuhan yang utama, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk kebutuhan industri. Hal ini disebabkan karena tenaga listrik mudah untuk ditransportasikan dan dikonversikan ke dalam bentuk tenaga yang lain. Penyediaan tenaga listrik yang stabil dan kontinyu merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik.

Dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, terjadi pembagian beban-beban yang pada awalnya merata tetapi karena ketidakserempakan waktu penyalaan beban-beban tersebut maka menimbulkan ketidakseimbangan beban yang berdampak pada penyediaan tenaga listrik. Ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa (fasa R, fasa S, dan fasa T) inilah yang menyebabkan mengalirnya arus di netral trafo.


 

Teori Transformator


 

Transformator merupakan suatu alat listrik yang mengubah tegangan arus bolak-balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip-prinsip induksi-elektromagnet. Transformator terdiri atas sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis dan dua buah kumparan, yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder.

Penggunaan transformator yang sederhana dan handal memungkinkan dipilihnya tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan serta merupakan salah satu sebab penting bahwa arus bolak-balik sangat banyak dipergunakan untuk pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik.

Prinsip kerja transformator adalah berdasarkan hukum Ampere dan hukum Faraday, yaitu: arus listrik dapat menimbulkan medan magnet dan sebaliknya medan magnet dapat menimbulkan arus listrik. Jika pada salah satu kumparan pada transformator diberi arus bolak-balik maka jumlah garis gaya magnet berubah-ubah. Akibatnya pada sisi primer terjadi induksi. Sisi sekunder menerima garis gaya magnet dari sisi primer yang jumlahnya berubah-ubah pula. Maka di sisi sekunder juga timbul induksi, akibatnya antara dua ujung terdapat beda tegangan


 

Perhitungan Arus Beban Penuh Transformator

    

    Daya transformator bila ditinjau dari sisi tegangan tinggi (primer) dapat dirumuskan sebagai berikut :

    S
= √3 . V . I
                            (1)

dimana :

S
    :    daya transformator (kVA)

V    :    tegangan sisi primer transformator (kV)

I    :    arus jala-jala (A)

    Sehingga untuk menghitung arus beban penuh (full load) dapat menggunakan rumus :

    IFL                                     (2)

dimana :

IFL     :    arus beban penuh (A)

S
    :    daya transformator (kVA)

V    :    tegangan sisi sekunder transformator (kV)


 

Losses (rugi-rugi) Akibat Adanya Arus Netral pada Penghantar Netral Transformator

    Sebagai akibat dari ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa pada sisi sekunder trafo (fasa R, fasa S, fasa T) mengalirlah arus di netral trafo. Arus yang mengalir pada penghantar netral trafo ini menyebabkan losses (rugi-rugi). Losses pada penghantar netral trafo ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

PN    =    IN2. RN
                            (3)

dimana :    

PN     :    losses pada penghantar netral trafo (watt)

IN     :    arus yang mengalir pada netral trafo (A)

RN     :    tahanan penghantar netral trafo (Ω)

    Sedangkan losses yang diakibatkan karena arus netral yang mengalir ke tanah (ground) dapat dihitung dengan perumusan sebagai berikut :

PG    =    IG2 . RG
                            (4)

dimana :    

PG     :    losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah (watt)

IG     :    arus netral yang mengalir ke tanah (A)

RG     :    tahanan pembumian netral trafo (Ω)


 

Ketidakseimbangan Beban

Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah suatu keadaan di mana :

  • Ketiga vektor arus / tegangan sama besar.
  • Ketiga vektor saling membentuk sudut 120º satu sama lain.

    Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan di mana salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi. Kemungkinan keadaan tidak seimbang ada 3 yaitu :

    • Ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120º satu sama lain.
    • Ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120º satu sama lain.
    • Ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120º satu sama lain.


     


     

    Gambar 1. Vektor Diagram Arus


     

        Gambar 1(a) menunjukkan vektor diagram arus dalam keadaan seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR, IS, IT) adalah sama dengan nol sehingga tidak muncul arus netral (IN). Sedangkan pada Gambar 1(b) menunjukkan vektor diagram arus yang tidak seimbang. Di sini terlihat bahwa penjumlahan ketiga vektor arusnya (IR, IS, IT) tidak sama dengan nol sehingga muncul sebuah besaran yaitu arus netral (IN) yang besarnya bergantung dari seberapa besar faktor ketidakseimbangannya.


     

    Penyaluran Dan Susut Daya

    Misalnya daya sebesar P disalurkan melalui suatu saluran dengan penghantar netral. Apabila pada penyaluran daya ini arus-arus fasa dalam keadaan seimbang, maka besarnya daya dapat dinyatakan sebagai berikut :

        P = 3 . [V] . [I] . cos j                        (5)

    dengan :    

    P     :     daya pada ujung kirim

    V     :     tegangan pada ujung kirim

    cos j     :     faktor daya

    Daya yang sampai ujung terima akan lebih kecil dari P karena terjadi penyusutan dalam saluran.

    Jika [I] adalah besaran arus fasa dalam penyaluran daya sebesar P pada keadaan seimbang, maka pada penyaluran daya yang sama tetapi dengan keadaan tak seimbang besarnya arus-arus fasa dapat dinyatakan dengan koefisien a, b dan c sebagai berikut :

                                    (6)

    dengan IR , IS dan IT berturut-turut adalah arus di fasa R, S dan T.

    Bila faktor daya di ketiga fasa dianggap sama walaupun besarnya arus berbeda, besarnya daya yang disalurkan dapat dinyatakan sebagai :

    P = (a + b + c) . [V] . [I] . cos j                    (7)

    Apabila persamaan (7) dan persamaan (5) menyatakan daya yang besarnya sama, maka dari kedua persamaan itu dapat diperoleh persyaratan untuk koefisien a, b, dan c yaitu :

    a + b + c = 3                                    (8)

    dimana pada keadaan seimbang, nilai a = b = c = 1


     

    Pengumpulan Data :

    Spesifikasi Trafo Tiang adalah sebagai berikut :

    Buatan Pabrik        : TRAFINDO

    Tipe             : Outdoor

    Daya             : 200 kVA

    Tegangan Kerja     : 21/20,5/20/19,5/19 kV // 400 V

    Arus             : 6,8 – 359 A

    Hubungan         : Dyn5

    Impedansi         : 4%

    Trafo             : 1 x 3 phasa


     


     


     

    Gambar 2. Trafo Distribusi 200 kVA


     


     


     

    Gambar 3. Single Line Trafo Distribusi 200 kVA


     

    Tabel 1. Hasil Pengukuran Trafo Distribusi 200 kVA


     

    Fasa 

    S

    (kVA) 

    Vp-n

    (V) 

    I

    (A) 

    Cos j

    Pengukuran pada siang hari

    R 

    50,42

    226

    223,1

    0,95

    S 

    37,34

    226

    165,0

    0,94

    T 

    20,56

    227

    90,6

    0,95

    IN

    118,6 A

    IG

    62,1 A

    RG

    3,8 W

    Pengukuran pada malam hari

    R 

    68,22

    225

    303,6

    0,91

    S 

    42,42

    226

    187,7

    0,92

    T 

    37,38

    226

    165,4

    0,94 

    IN

    131,7 A 

    IG

    58,9 A 

    RG

    3,8 W


     

    Ukuran kawat untuk penghantar netral trafo adalah 50 mm2 dengan R = 0,6842 W / km, sedangkan untuk kawat penghantar fasanya adalah 70 mm2 dengan R = 0, 5049 W / km.


     


     

    Gambar 4. Skema Aliran Arus di Sisi Sekunder Trafo pada Siang Hari.


     


     

    Gambar 5. Skema Aliran Arus di Sisi Sekunder Trafo pada Malam Hari.


     

  1. Analisa Pembebanan Trafo


 

S = 200 kVA

V = 0,4 kV phasa - phasa

IFL     = = = 288,68 Ampere


 

Irata siang = = = 159,67 Ampere


 

Irata malam = = = 218,90 Ampere


 

Persentase pembebanan trafo adalah :

  • Pada siang hari :

= = 55.31 %


 

  • Pada malam hari :

= = 75.83 %

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa pada saat malam hari (WBP = Waktu Beban Puncak) persentase pembebanan cukup tinggi yaitu 75.83 %.


 

  1. Analisa Ketidakseimbangan Beban pada Trafo
  • Pada Siang Hari :

    Dengan menggunakan persamaan (6), koefisien a, b, dan c dapat diketahui besarnya, dimana besarnya arus fasa dalam keadaan seimbang ( I ) sama dengan besarnya arus rata-rata ( Irata ).


     

    IR = a . I    maka :    a = 1,40


 

    IS = b . I    maka :    b
= 1,03


 

    IT = c . I    maka :    c = 0,57


 

Pada keadaan seimbang, besarnya koefisien a, b dan c adalah 1.

Dengan demikian, rata-rata ketidakseimbangan beban (dalam %) adalah :


 

    {│a – 1│ + │b – 1│ + │c – 1│}

=                     x 100 %

             3


 

    {│1,40 – 1│+│1,03 – 1│+│0,57 – 1│}

=                             x 100 % = 28,67%

             3


 

  • Pada Malam Hari :

    Dengan menggunakan persamaan (6), koefisien a, b, dan c dapat diketahui besarnya, dimana besarnya arus fasa dalam keadaan seimbang ( I ) sama dengan besarnya arus rata-rata ( Irata ).


 

    IR = a . I    maka :    a = 1,39


 

    IS = b . I    maka :    b = 0,86


 

    IT = c . I    maka :    c = 0,75


 

    Pada keadaan seimbang, besarnya koefisien a, b dan c adalah 1.

Dengan demikian, rata-rata ketidakseimbangan beban (dalam %) adalah :


 

    {│1,39 – 1│+│0,86 – 1│+│0,75 – 1│}

=                             x 100 % = 26.00%

             3

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa baik pada siang hari maupun malam hari, ketidakseimbangan beban cukup tinggi (> 25%), hal ini disebabkan karena penggunaan beban yang tidak merata di antara konsumen.


 

Analisa Losses Akibat Adanya Arus Netral pada Penghantar Netral Trafo dan Losses Akibat Arus Netral yang Mengalir ke Tanah


 

  • Pada Siang Hari :

    Dari tabel pengukuran, dan dengan menggunakan persamaan (3), losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dapat dihitung besarnya, yaitu:

            PN    = IN2. RN = (118,6)2 . 0,6842 = 9623,92 Watt ≈ 9,62 kW


 

dimana daya aktif trafo (P) :

        P = S . cos φ , dimana cos φ yang digunakan adalah 0,85

        P = 200 . 0,85 = 170 kW


 

Sehingga, persentase losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo adalah :

    % PN      = 5.66 %


 

Losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah dapat dihitung besarnya dengan menggunakan persamaan (4), yaitu :

    PG     = IG2 . RG = (62,1) 2 . 3,8 = 14654,4 Watt ≈ 14,65 kW


 

Dengan demikian persentase losses-nya adalah :

    % PG      = 8,62 %


 

  • Pada Malam Hari :

        Dari tabel pengukuran, dan dengan menggunakan persamaan (3), losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dapat dihitung besarnya, yaitu:

            PN    = (131,7)2 . 0,6842 = 11867.37 Watt ≈ 11,87 kW


 

Sehingga, persentase losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo adalah :

    % PN      = 6,98 %


 

Losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah dapat dihitung besarnya dengan menggunakan persamaan (4), yaitu :

    PG     = (58,9) 2 . 3,8 = 13183,00 Watt ≈ 13,18 kW


 

Dengan demikian persentase losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah adalah :

    % PG      = 7,75 %


 

Tabel 2. Losses pada Trafo Distribusi 200 kVA

RN

Waktu 

Ketidakseimbangan Beban ( % )

IN

IG

PN

PN

PG

PG

( W )

( A ) 

( A ) 

( kW ) 

( % ) 

( kW ) 

( % ) 

0,6842

(50 mm2)

Siang 

28,67 

118,6 

62,1 

9,62 

5,66 

14,65 

8,62 

Malam 

26,00 

131,7 

58,9 

11,87 

6,98 

13,18 

7,75 

0, 5049

(70 mm2)

Siang 

28,67 

118,6 

62,1 

7.10

4.18

14,65 

8,62 

Malam 

26,00 

131,7 

58,9 

8.76

5.15

13,18 

7,75 

    Pada Tabel 2 terlihat bahwa semakin besar arus netral yang mengalir di penghantar netral trafo (IN) maka semakin besar losses pada penghantar netral trafo (PN). Demikian pula bila semakin besar arus netral yang mengalir ke tanah (IG), maka semakin besar losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah (PG).

    Dengan semakin besar arus netral dan losses di trafo maka effisiensi trafo menjadi turun.

Bila ukuran kawat penghantar netral dibuat sama dengan kawat penghantar fasanya (70 mm2) maka losses arus netralnya akan turun.


 

Kesimpulan

  1. Berdasarkan analisa data di atas, terlihat bahwa pada siang hari ketidakseimbangan beban pada trafo tiang semakin besar karena penggunaan beban listrik tidak merata.

    Sesuai tabel 2, semakin besar ketidakseimbangan beban pada trafo tiang maka arus netral yang mengalir ke tanah (IG) dan losses trafo tiang semakin besar.

    Salah satu cara mengatasi losses arus netral adalah dengan membuat sama ukuran kawat netral dan fasa.


     

    Referensi

    [1]    Abdul Kadir, Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik, Jakarta : UI - Press, 2000.

    [2] Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000), Jakarta : Badan Standarisasi Nasional, 2000.

    [3]    James J.Burke, Power Distribution Engineering – Fundamentals And Applications, New York : Marcel Dekker Inc., 1994.

    [4]    Sudaryatno Sudirham, Dr., Pengaruh Ketidakseimbangan Arus Terhadap Susut Daya pada Saluran, Bandung : ITB, Tim Pelaksana Kerjasama PLN-ITB, 1991.

    [5]    Sulasno, Ir., Teknik Tenaga Listrik, Semarang : Satya Wacana, 1991.

    [6]    Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, Bandung : ITB, 1991.

    [7]    Abdul Kadir, Transformator, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1989.

Selasa, 08 Februari 2011

BIARLAH TUHAN MENILAIMU


Alkisah, seorang Ayah dan anak sedang perjalanan jauh sambil menuntun onta yang terlihat beberapa barang yang diletakkan diatas Onta tersebut..., sampai mereka berpapasan dengan seseorang pedagang pertama. Dia berkata,

"Dasar bodoh kalian... onta yang kuat dan kekar itu kok tidak dinaiki oleh salah satu dari kalian? Dasar Bodoh!"

Sang ayah kaget, dan menyuruh sang anak untuk naik onta tersebut. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan pedagang kedua. Dia Berkata,

"Emang anak tak tau diri, masak Ayahnya dibiarkan berjalan menuntun onta yang dinaiki anaknya...!"

Sang Anak kaget, kemudia dia mempersilahkan ayahnya untuk naik onta. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan pedangang ketiga. Dia berkata,

"Wah... wah... tega nian ini sang Ayah... masak anak yang belum besar ini disuruh menuntun onta, sedang ayahnya bersantai diatas onta...?"

Sang Ayah kaget, kemudian mengajak anaknya untuk naik bersama-sama ke atas Onta. Hingga mereka bertemu dengan pedagang ke empat. Dia berkata.

"Dasar manusia-manusia tidak berperikehewanan! Onta kok dinaiki oleh dua orang dan barang-barang?... kasihanilah onta tersebut...!"

Kemudian sang ayah berkata kepada anaknya, "Anakku, memang ketika kita mengharap nilai dari manusia, maka akan seperti ini.... tidak jelas..., maka biarlah Tuhan yang menilai kita...!"

~~~

Sahabatku, Biarlah Tuhan Menilaimu...

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi, tetaplah berbuat baik.

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.

Salam Motivasi...!
http://ceceem.blogspot.com/2010/01/cerita-biarlah-tuhan-menilaimu.html

Inverter

BAB II

LANDASAAN TEORI


 

  1. Pengertian Inverter

Inverter merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk mengubah tegangan searah menjadi tegangan bolak-balik dan frekuensinya dapat diatur. Inverter ini sendiri terdiri dari beberapa sirkuit penting yaitu sirkuit converter (yang berfungsi untuk mengubah daya komersial menjadi dc serta menghilangkan ripple atau kerut yang terjadi pada arus ini) serta sirkuit inverter (yang berfungsi untuk mengubah arus searah menjadi bolak-balik dengan frekuensi yang dapat diatur-atur). Inverter juga memiliki sebuah sirkuit pengontrol.


 


 


 

Gambar 2.1 Blok Diagram Inverter


 


 


 


 

  1. Prinsip Kerja Inverter
  2. Inverter 1 Fasa

Pada dasarnya inverter merupakan sebuah alat yang membuat tegangan bolak-balik dari tegangan searah dengan cara pembentukan gelombang tegangan. Namun gelombang tegangan yang terbentuk dari inverter tidak berbentuk sinusoida melainkan berbentuk gelombang dengan persegi. Pembentukan tegangan AC tersebut dilakukan dengan menggunakan dua pasang saklar. Berikut ini merupakan gambar yang akan menerangkan prinsip kerja inverter dalam pembentukan gelombang tegangan persegi.


 


 


 

Gambar 2.2 Prinsip kerja inverter 1 Phasa


 

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk menghasilkan arus bolak-balik, maka kerja saklar S1 sampai S4 yang disuplay oleh tegangan dc harus bergantian. Lalu bagaimanakah gelombang tegangan tersebut dapat terbentuk dari keempat buah saklar tersebut? Ketika saklar S1 dan S4 hidup maka arus akan mengalir dari titik A ke titik B sehingga terbentuklah tegangan positif. Setelah itu gentian saklar S2 dan S3 yang hidup dan arus akan mengalir dari tiitk B ke titik A sehingga terbentuklah tegangan negative.


 


 


 


 


 

Pembentukan gelombang hasil ON-OFF keempat saklar tersebut dapat terlihat dari gambar berikut:


 


 


 


 


 

Gambar 2.3 Bentuk gelombang tegangan


 

Dengan mengubah arah arus yang mengalir ke beban (pada ½ periode pertama arus mengalir dari titik A ke titik B dan pada ½ periode kedua arus mengalir dari B ke A) maka akan didapatkan bentuk gelombang arus bolak-balik. Lalu bagaimana inverter dapat mengatur frekuensi keluarannya? Inverter mengatur frekuensi keluarnnya dengan cara mengatur waktu ON-OFF saklar-saklarnya. Sebagai contoh apabila S1 dan S4 ON selama 0,5 detik begitu juga dengan S2 dan S3 secara berganti-gantian maka akan dihasilkan gelombang bolak-balik dengan frekunsi 1 Hz. Pada dasarnya saklar S1-S4 dan S2-S3 dihidupkan dengan jangka waktu yang sama. Jadi apabila dalam satu periode To = 1 detik, maka S1-S4 ON selama 0,5 detik dan S2-S3 ON selam 0,5 detik dan didapatkan frekuensi sebesar 1 Hz.


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 2.4 Bentuk gelombang tegangan AC dengan frekuensi 1 Hz


 


 


 


 

Jika dalam satu periode tersebut dinyatakan pada T maka nilai frekuensi yang dihasilkan adalah (F):

F = 1/T


 

Dimana:     F = Frekuensi (Hertz)

        T = Periode (detik)


 

  1. Inverter 3 fasa

Pada dasarnya prinsip kerja pada inverter 3 Phasa sama dengan inverter 1 phasa. Yaitu dengan mengubah arus searah menjadi bolak-balik dengan frekuensi yang beragam. Dimana tegangan arus DC ini dihasilkan oleh sirkuit converter untuk kemudian diubah lagi menjadi arus AC oleh sirkuit inverter.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 2.5 Sirkuit pada inverter

Dari gambar 2.6 dapat dilihat bahwa inverter memiliki dua buah sirkut utama, yaitu sirkuit converter dan sirkuit inverter. Sirkuit converter berfungsi untuk mengubah daya komersial AC menjadi arus searah serta menghilangkan ripple akibat penyearahan yang akan dilakukan oleh dioda-dioda pada sirkuit converter ini dengan menggunakan kapasitor penghalus (C). Tegangan DC dari converter itu kemudian menjadi sumber tegangan untuk transistor-transistor pada sirkuit converter. Selain berfungsi untuk mengubah kembali tegangan DC menjadi tegangan AC kembali, transistor-transistor juga mempunyai fungsi utama untuk mengatur frekuensi keluaran inverter yang beragam.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 2.6 Sirkuit dasar inverter 3 phasa dengan transistor


 

Inverter juga memiliki saklar-saklar seperti pada inverter 1 phasa yakni untuk membentuk tegangan bolak-balik juga mengatur frekuensi keluaran inverter yaitu S1-S6. Namun pada aplikasinya saklar-saklar ini diganti dengan menggunakan enam buah transistor. Hal imi disebabkan karena saklar konversional memiliki banyak kerugian diantaranya adalah pada kecepatan perpindahan saklar. Apabila saklar berubah-ubah dengan kecepatan tidak konstan untuk setiap perubahan tegangan (dari positif ke negative), tentunya frekuensi yang dihasilkan akan tidak konstan pula. Setelah itu transistor dihidup-matikan untuk menjalankan motor.


 


 

Hubungan antara tegangan inverter (VRO, VSO, VTO) dan tegangan output (VRS, VST, VTR) dapat diturunkan sebagai berikut:


 

VRS = VRO-VSO

VST = VSO-VTO

VTR = VTO-VRO


 

Tegangan phasa (VRN, VSN, VTN) diberikan oleh tegangan netral pada kumparan stator motor akan timbul tegangan relative terhadap titik nol inverter yaitu sebesar:


 

VNO = VRO+VSO+VTO ≠ 0

3

Gambar dibawah ini menunjukan hubungan antara tegangan inverter serta urutan penyalaan. Pulsa-pulsa penyalaan yang identik dengan tegangan inverter adalah memiliki pilsa rate = 1 dengan pengeseran phasa 120 derajat, duty cycle 50 %.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 2.7 Hubungan Tegangan Antara Phasa Inverter Dan Urutan Penyalaan

Sedangkan untuk tegangan per phasa inverter dapat diturunkan menjadi persamaan – persamaan berikut :


 

VRN = 1/3 VRO – 1/3 VSO -1/3 VTO

VSN = 2/3 VSO – 1/3 VRO -1/3 VTO

VTN = 2/3 VTO – 1/3 VSO -1/3 VRO


 

2.2.3 Pengendalian Tegangan Inverter

Dalam beberapa pemakain di industri, sering dikehendaki untuk mengendalikan tegangan keluaran Inverter. Terdapat beberapa teknik untuk mengendalikan tegangan keluaran Inverter seperti ditunjukan pada gambar 2.7.


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 2.8 Teknik Mengeluarkan Tegangan Keluaran Inverter


 

Pada umumnya teknik yang sering dipakai adalah sistem PWM (Pulse Width Modulation), sistem kontrol yang berbeda-beda ini menghasilkan karakteristik motor yang berbeda pula (seperti getaran, suara, riak arus motor, respon torsi).


 


 


 


 


 


 


 


 

Pada sistem PWM, beberapa pulsa hidup-mati dihasilkan dalam satu siklus dan lamanya juga beragam untuk mengubah-ubah tegangan output. Jumlah pulsa hidup-mati yang dihasilkan dalam satu detik disebut frekuensi pembawa. Pada sistem PWM ini, getaran motor dan kebisingan motor dari komponen frekuensi sebanding dengan frekuensi pembawa yang dihasilkan. Frekuensi pembawa dari sebuah Inverter bersuara akustik lebih rendah sangat tinggi, jadi pada Inverter dengan nilai frekuensi pembawa yang besar dapat menghaluskan suara bising dari motor listrik. Akan tetapi hal tersebut dapat membuat arus bocor yang terjadi antara motor dan Inverter menjadi lebih besar, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya arus lebih. Untuk kondisi seperti ini, pemilihan penghantar kebocoran ke bumi / cara pembumian harus dilakukan dengan benar.


 

  1. Spesifikasi Inverter

Pada modul latih inverter ini kami menggunakan inverter LG type SV008 iC5A-1. Inverter ini dapat menggunakan sumber tegangan 1 phasa sebesar 200-230V dengan frekuensi 0 Hz sampai 60 Hz, yang kemudian diubah menjadi tegangan 3 phasa dan menghasilkan frekuensi dan tegangan yang variable dimana frekuensi keluarannya mulai 0.1 sampai dengan 400Hz. Sedangakan kapasitas dayanya ialah sebesar 0.75 kW atau 1HP.

Dimensi inverter ini 70 x 128 x 130 mm dengan berat 0.77 kg dan mampu bekerja pada suhu antara -10 °C sampai 500 °C. Interface inverter berupa keypad

arah dengan tombol enter ditengah-tengah untuk memasukan parameter inverter dan tombol RUN dan STOP serta sebuah layer yang menampilkan 7 segment dengan 4 digit untuk memonitor kerja system.


 


 


 

Gambar 2.9 Tampilan Inverter LG SV008 iC5A-1

2.4 Setting Parameter

Sebelum mengunakan inverter sebagai pengatur kecepatan motor maka hal pertama yang harus kita lakukan ialah memprogram parameter dari inverter tersebut agar bekerja sesuai dengan kita inginkan. Hal ini disebut dengan setting parameter kita dapat mengendalikan motor mulai dari motor tersebut start sampai ketika motor stop. Kita juga dapat menentukan pengaman motor dan inverter itu sendiri sehingga ketika terjadi gangguan pada motor maka inverter akan mati. Di dalam parameter inverter terdapat empat grup dimana tiap-tiap grup memiliki fungsi yang berbeda-beda. Diantaranya ialah: Drive Group, Function Group 1, Function Group 2, dan I/O group.


 


 


 

Gambar 2.10 Grup pada parameter inverter


 

2.4.1 Drive Group

    Dalam Drive Group berisikan parameter-paremeter dasar untuk mengoperasikan inverter. Diantaranya adalah Accel Time yang berfungsi untuk mengatur kenaikan kecepatan motor. Drive Mode untuk memilih mode pengeoperasian inverter apakah dari keypad inverter, terminal inverter atau port komunikasi RS485. Frequency Setting Methode yang berfungsi untuk memilih apakah pengaturan frekunsi keluaran inverter dengan mode digital yaitu melalui keypad atau dengan mode analog yaitu melalui terminal input analog inverter: VR, V1, dan I. ST1, ST2, ST3 untuk men-set frekuensi step1, 2 ,3 pada Multi Step Frekuensi. DRC yang berfungsi untuk membalik putaran motor tanpa harus menukar salah satu fasa.

2.4.1.1 Accel dan Decel

Accel atau akselerasi merupakan proses kenaikan kecepatan dari frekuensi awal hingga mencapai frekuensi yang diinginkan. Sedangkan Decel atau deselerasi ialah merupakan proses penurunan kecepatan dari frekuensi yang diinginkan. Satuan kedua fungsi ini ialah detik atau second.


 


 

Gambar 2.11 Pengoperasian Accel dan Decel


 

Apabila frekuensi maksimal di set pada F21 sebesar 60 Hz dan run frekuensi di set pada 30Hz dan Accel Decel Time di set pada 5 detik maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai frekuensi 30Hz ialah 2,5 detik.


 

2.4.1.2 Frequency Setting Method

    Di dalam inverter frekuensi keluaran dapat diatur melalui dua cara yaitu melalui metode analog dan metode digital. Pada metode digital frekuensi keluaran inverter di atur melalui tombol keypad inverter. Sedangkan pada metode analog frekuensi keluaran inverter diatur melalui terminal input analog yaitu VR, V1, dan I. kita dapat memasang potensiometer pada terminal VR, V1, dan CM untuk mengatur frekuensi inverter.


 

Gambar 2.12 Potensiometer external sebagai pengaturan V/F


 


 

Pada aplikasinya terminal input analog ini dapat digunakan untuk menerima sinyal dari sensor berupa 0 sampai 20mA untuk terminal input 1 atau -10 sampai +10V DC untuk terminal input V1.


 

2.4.1.3 Drive Mode dan Forward Reverse Mode

Pada fungsi Drive Mode kita dapat mengeoperasikan inverter dari berbagai mode diantaranya ialah: keypad inverter, dari terminal P1/P2 inverter atau dari terminal port RS485. Jika kita memilih mode keypad maka pengoperasian inverter akan dilakukan dengan menekan tombol Run/Stop. Untuk menggantikan putaran motor menjadi reverse maka pada fungsi drC di set Menjadi r (reverse). Jika memilih mode pengoperasian via terminal Fx/Rx maka inverter akan run apabila terminal Fx/Rx di-On kan. Untuk menggantikan arah putaran motor dari forward menjadi reverse maka terminal P2 harus kita ON-kan dimana sebelumnya I20 di set ke 0 (forward) dan I21 di set ke 1 (reverse).


 


 

Gambar 2.13 Pengoperasian Forward Reverse


 

Pada karakteristik di atas dapat kita lihat bahwa motor akan ON dalam putaran forward ketika Fx On ketika Rx On maka motor akan mengalami deselerasi dan berputar kearah berlawanan. Motor akan OFF apabila Fx dan Rx secara bersamaan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

2.4.1.4 Monitoring Function

Pada Drive mode kita dapat melakukan monitoring seperti frekuensi keluaran inverter pada frequency command (0.00), arus output inverter pada Cur, ataupun gangguan yang sedang terjadi pada nOn serta tegangan output, daya output, dan torsi pada vOL.

    Inverter juga dapat menampilkan gangguan apabila terjadi kesalahan atau trouble ketika inverter sedang dioperasikan. Berikut ini merupakan table penunjukan adanya kondisi gangguan pada pengoperasian inverter:


 

Table 2.1 jenis gangguan


 

Jenis Gangguan  

Display 

Overcurrent  

Oct 

Ground fault current  

GFt 

Inverter overload  

IOL 

Overload trip  

OLt 

Inverter overheat 

OHt 

Output phase loss 

Pot 

Over voltage 

Out 

Low voltage  

Lut 

Electronic thermal 

EtH 

Input phase loss 

COL 

Self-diagnostic malfunction

FLtL 


 

Ketika gangguan-gangguan tersebut terjadi maka inverter akan menampilkan pada drive group nOn. Ketika kondisi gangguan terjadi dan di reset dengan tombol STOP/RESET atau via terminal multifunction input, informasi atau history mengenai gangguan tersebut akan tersimpan pada H1, sedangkan apabila sebelumnya juga terjadi gangguan akan tersimpan di H2. Inverter dapat menyimpan history gangguan sampai 5 yaitu pada parameter H1-H5. Oleh karena itu apabila terjadi gangguan maka gangguan yang baru saja terjadi akan tersimpan di H1.

Selain dapat memantau apabila terjadi gangguan kita inverter juga dapat digunakan untuk memonitor tegangan output, daya output, dan torsi pada group drive 'vOL'. Untuk melihat daya output set parameter H73 ke 1 atau ke 2 untuk melihat torsi.


 

2.4.2 Function Group 1 (Base Function Group)

    Pada Function Group atau Base Function Group terdapat parameter-parameter fungsi dasar yang mengatur frekuensi dan tegangan output dari inverter. Di dalam Function Group 1 terdapat 60 fungsi yaitu dari F1~F60. Seperti fungsi Muti-Speed frequency, Jog Operation, V/F Control, Multi Accel Decel Time, Frekuency Limit, dan lain-lain. Namun pada buku ini tidak akan dibahas fungsi-fungsi pada Function Group 1 tersebut secara menyeluruh karena parameter-parameter yang akan dibahas ialah hanya sebatas yang digunakan pada modul latih inverter ini. Berikut merupakan beberapa fungsi dasar parameter yang akan kami gunakan pada Function Group 1:


 

2.4.2.1 Multi-Step Frequency

    Multi-Step Frequency atau yang biasa juga disebut dengan pengoperasian Multispeed. Pada mode ini variasi pengaturan kecepatan yang dilakukan sebanyak 8 step speed hingga motor berputar dengan putaran nominal. Pada mode ini, jika yang ingin dipakai kontak Multifunction input pada inverter harus diaktifkan terlebih dahulu dengan melakukan setting parameter sebagai Multi-Step Frekuency Low-Medium-High, serta memasukkan nilai frekuensi tiap step. Jika kontak Multifunction yang ingin dipakai adalah P3-P5 maka pada I22-I24 kita set ke 5-7 (Multi-Step Frekuency Low-Medium-High). Lalu untuk memasukan nilai frekuensi tiap step speed di set pada drive group S1, S2, S3 untuk step frekuensi kecepatan 1-3 dan untuk step frekuensi kecepatan 4-7 di set pada I/O Group 130-133.


 


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 2.14 Pengoperasian Multi-Step Frequency


 


 


 

Table 2.2 pengeoperasian Multi-Step Frequency


 


 


 


 


 


 

2.4.2.2 Jog Operation

    Operasi jog merupakan fungsi untuk menaikkan atau menurunkan frekuensi ketika motor sedang dioperasikan. Dari gambar dibawah dapat dilihat bahwa jika fungsi jog ingin dioperasikan melalui terminal Multifunction P3 maka Grup I/O 122 di set ke 4 (jog operation command). Sedangkan untuk mengatur frekuensi jog di set pada F20. Besarnya frekuensi jog antara frekuensi maksimal (F21) dan frekuensi awal (F22).


 


 

Gambar 2.15 Kontak yang digunakan pada pengoperasian jog


 


 


 


 

Gambar 2.16 Pengoperasian jogging

    


 

2.4.2.3 V/F Control

    Pada fungsi parameter ini pengoperasian inverter disesuaikan dengan tipe karakteristik beban motor. V/F Control mempunyai 3 mode operasi, yaitu: linear, square, dan user V/F pattern. Untuk men-set pada tipe linear maka F30 di set ke 0 (linear). Tipe linear ini digunakan untuk mendapatkan karakteristik torsi konstan. Jika inginkan tipe square maka F30 diset ke 1. Contoh pengaplikasian tipe square ini pada beban-beban seperti kipas, pompa, dan lain-lain. Untuk menggunakan user V/F maka F30 di set ke 2. User V/F digunakan pada motor khusus untuk mengetahui karakteristik beban. Namun sebelumnya terlebih dahulu memberikan setting pada F31 sampai dengan F38, untuk mendapatkan karakteristik tersebut dengan nilai V dan F yang bervariasi.


 


 

Gambar 2.17 Linear V/F Patern Operation


 


 


 

Gambar 2.18 Square V/F Patern Operation


 


 


 

Gambar 2.19 Operasi User V/F Patern


 


 


 

2.4.2.4 Multi Accel dan Decel Time

    Berbeda dengan Multi-Step Frequency atau Multispeed, maka Multi Accel Decel frekuensi yang digunakan tetap, namun waktu akselarasi maupun deselarasinya dapat berbeda-beda tergantung kontak yang sedang aktif. Seperti halnya Multi-Step Frequency, pada Multi Accel Decel jika yang ingin dipakai kontak Multifunction input pada inverter harus diaktifkan terlebih dahulu dengan melakukan setting parameter sebagai Multi Aceel
Decel Low-Medium-High, serta memasukkan nilai tiap Accel Time dan Decel Time. Jika kontak Multifunction yang ingin dipakai adalah P3-P5 maka pada I22-I24 kita set ke 8-10 (Multi-Step Frequency Low-Medium-High, Multi Aceel Decel Low-Medium-High). Lalu untuk memasukkan nilai waktu pada Accel Time dan Decel Time di set pada grup I/O yaitu 134-147. pada pengoperasian Multi Accel Decel nilai Accel dan Decel pada Drive grup di set ke 0.


 


 

Gambar 2.20 Multi Accel Decel Time


 


 


 


 


 


 


 


 

Table 2.3 Pengoperasian Multi Accel Decel Time


 

2.4.2.5 Frequency Limit

    Untuk mengamankan motor ketika sedang dioperasikan maka kita juga harus memasukkan data spesifikasi motor pada parameter setting, contohnya frekuensi nominal motor tersebut. Apabila motor dioperasikan dengan frekuensi yang berbeda dengan frekuensi nominal motor tersebut dalam waktu yang lama maka akan menyebabkan motor itu panas bahkan dapat terbakar. Pada fungsi frekuensi limit ini membatasi frekuensi output inverter ke motor sehingga motor dapat aman. Untuk menentukan frekuensi limit ini di set pada fungsi F25(Max Frequency) dan juga F22 (Base Frequency). Kita juga dapat mengaktifkan F24 (Frequency High/Low Limit) agar F25 (Frequency High Limit) dan F26 (Frequency Low Limit) aktif dan dapat di set.


 


 

Gambar 2.21 Pengeoperasian batas frekuensi


 

2.4.3 Function Group 2 (Advanced Function Group)

Pada function group 2 berisikan fungsi-fungsi yang merupakan keunggulan dari inverter itu sendiri. Fungsi-fungsi tersebut antara lain seperti Auto-tuning, sensorless vector control, 2nd motor operation yang memungkinkan inverter untuk mengopersikan 2 motor, DC brake yang berfungsi untuk menghentikan motor dengan memberikan tegangan DC. Slip Compensation yaitu fungsi untuk memungkinkan motor untuk beroperasikan dengan kecepatan yang konstan dengan cara mengkompensasi slip yang terjadi pada motor induksi. Inverter juga dapat mengamankan parameter yang telah di setting agak tak dapat di ubah-ubah dengan memberikan password ataupun mereset semua settingan parameter menjadi default atau settingan pabrik dengan parameter initialize dan parameter lock.


 

2.4.3.1 Slip Compensation

    Slip compensation merupakan suatu fungsi yang memungkinkan motor untuk beroperasi dengan kecepatan yang kostan dengan cara mengkompensasi slip yang terjadi pada motor induksi. Dibawah ini merupakan rumus untuk menentukan slip frekuensi yang akan di set pada H32 (Rated slip frequency).


 


 


 


 

Dimana,     fs = slip frekuensi

        fr = frekuensi

        rpm = kecepatan

        P = jumlah pole motor


 


 


 

Gambar 2.22 Kompensasi Slip


 

Pada gambar dapat dilihat bahwa semakin besar beban motor maka akan semakin besar gap antara kecepatan sinkrun dan kecepatan motor ketika sedang dioperasikan. Slip compensation berfungsi untuk mengkompensasi slip tersebut.


 

2.4.3.2 Spesifikasi Motor

    Parameter setting ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada inverter mengenai spesifikasi motor yang akan dijalankan. H30 (motor type poles) adalah berapa KW daya pada motor, H31 (number of motor poles) adalah jumlah kutub pada motor, H32 (rated slip frequency) adalah slip frekuensi pada motor, H34 (no load motor current) adalah arus motor tanpa beban. H36 (motor efficiency) adalah effisiensi motor pada name plate.


 

2.4.3.3 Parameter Initialize / Lock

    Parameter Lock merupakan suatu fungsi untuk mengamankan parameter yang telah di setting dengan cara memberikan password pada H94. Sedangkan untuk meng-unlock fungsi tersebut dapat kita memasukkan password yang telah di register pada H95. Parameter initialize berfungsi untuk mengembalikan semua settingan parameter ke settingan pabrik atau setingan awal (default) baik itu hanya pada settingan drive grup-nya saja, function grup2-nya saja, atau hanya I/O grup-nya saja. Fungsi ini di set pada H93.


 


 


 


 


 


 

2.4.4 I/O (Input Output) Group

    I/O group atau input grup output merupakan grup terakhir dari parameter setting inverter yang mengatur fungsi terutama pada bagian terminal input, yaitu multifungsi input terminal maupun analog input VR, V1, I dan terminal output yaitu multifungsi output terminal dan relay serta analog output 24V.


 

2.4.4.1 Multi Function Input Terminal

    Multi function input terminal merupakan terminal-terminal input dari inverter yang terdiri dari P1 sampai dengan P5. Kelima terminal ini dapat di fungsikan untuk berbagai keperluan, seperti: forward command, jog command, dll. Pengaturan parameter untuk terminal multifungsi ini terdapat pada grup I/O I20 sampai I24. Selain memiliki terminal input multifungsi inverter juga memiliki terminal input analog yaitu VR, V1, dan I. Berikut ini merupakan fungsi-fungsi dari kelima terminal multifungsi inverter:


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Table 2.4 Deskripsi fungsi multifungsi input terminal


 


 


 


 


 


 

2.4.4.2 Multi Function Output Terminal

    Selain mempunyai multifungsi input terminal, inverter juga mempunyai multifungsi output terminal dan multifungsi relay. Untuk multifungsi output terminal keluarannya adalah terminal MO dan MG sedangkan untuk multifungsi relay keluarannya adalah terminal 3A sebagai kontak A, 3B untuk kontak B, dan untuk 3C untuk common kedua kontak tersebut. Sama halnya seperti pada multifungsi input terminal P1-P5, pada multifungsi output dan multifungsi relay terminal juga dapat di fungsikan untuk berbagai fungsi dan keperluan tergantung pada settingan parameter yang dilakukan. Setting parameter untuk multifungsi output dan relay ini terdapat pada grup I/O yaitu I54 dan I55. Berikut ini merupakan deskripsi fungsi dari settingan parameter untuk multifungsi output dan relay:


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Table 2.5 Deskripsi Multifungsi Output dan Relay Terminal


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

2.4.5 Protective Function

2.4.5.1 Electronic Thermal

    Electronic Thermal merupakan salah satu fungsi perlindungan inverter terhadap pencegahan beban lebih (relay suhu elektronik) dimana inverter akan mengamankan ketika arus melebihi 100% dari arus normal. Dalam hal ini inverter melindungi dari panas berlebihan pada rangkaian transistor utama yang menyebabkan beban lebih pada output.

Untuk mengaktifkan Electronic Thermal ini maka parameter F50 di set ke 1, lalu set nilai F51 yaitu nilai arus (dalam %) yang dapat mengalirkan ke motor dalam waktu 1 menit. Sedangkan F52 dapat dikatakan nilai arus nominal (dalam %). Nilai F52 ini tidak dapat lebih besar daripada nilai F51.


 


 

Gambar 2.23 Proses kerja elecetronic thermal trip


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

2.4.5.2 Overload Warning And Trip

    Overload warning merupakan fungsi untuk memberikan peringatan kepada inverter apabila terjadi gangguan Overload yang mencapai nilai setting pada F54 (Overload warning level), dengan waktu sebesar F55 (overload warning time). Dalam hal ini F54 di set sebesar 150% dan F55 di set sebesar 10 detik. Set I54 ke 5 untuk mengaktifkan kontak multifungsi output (MO) atau I55 ke 5 apabila yang ingin digunakan adalah kontak multifungsi relay 3ABC


 

Gambar 2.24 Pengaturan fungsi overload warning


 

    Sedangkan overload trip adalah rangkaian pengamanan yang dilakukan inverter apabila ketika beroperasi arus pada inverter melebihi kira-kira 200% dari arus nominal disebabkan beban yang berlebihan selama percepatan atau penurunan kecepatan. Untuk mengaktifkan overload trip set F56 ke 1. lalu tentukan berapa besar overload trip level pada F57 dan set F58 (overload trip time) pada 60 detik. Dalam hal ini F57 di set pada 180%. Jadi inverter akan mematikan keluarannya apabila ada arus berlebihan mengalir ke motor sebesar 180% dari arus nominal motor selama 60 detik.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

2.5    Dasar Pengawatan Inverter LG iC5A-1

    


 

Gambar 2.25 Pengawatan Inverter LG iC5A


 


 


 


 


 


 


 


 


 

2.5.1 Hal-hal Penting Dalam Pengawatan Inverter LG iC5A-1

Dalam menginstalisasi atau pengawatan ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:

  • Jangan pernah memberikan tegangan masukan lebih besar dari spesifikasi tegangan input.
  • Jangan menghubungkan singkatan P dan P1 karena hal itu dapat menyebabkan kerusakan pada inverter.
  • Hubungkanlah tegangan input pada terminal L1, L2 dan U, V, W ke motor karena apabila dilakukan sebaliknya maka dapat menyebabkan kerusakan pada inverter.
  • Perhatikan baik-baik spek motor pada nameplate dan berikan parameter setting yang tepat agar sesuai spesifikasi motor yang digunakan.


 

2.6 Spesifikasi Inverter LG iC5A-1


 

-

Gambar 2.26 Spesifikasi I/O terminal blok

2.7 Rangkaian NPN dan PNP pada
Inverter LG iC5A-1


 


 

Gambar 2.27 NPN pada terminal P24


 


 


 

Gambar 2.28 PNP dalam Inverter

Minggu, 06 Februari 2011

Menyengsarakan Anggota DPR

SUATU hari di negara antah berantah, muncul suatu kebijakan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di negara lain.


Kebijakan itu yakni, setiap orang yang berstatus wakil dinaikkan pangkatnya. Wakil presiden jadi presiden, wakil direktur menjadi direktur, wakil komandan menjadi komandan wakil gubernur menjadi gubernur, wakil RT menjadi ketua RT dan seterusnya. Yang penting dalam program ini tidak ada penggusuran posisi. Perkara ada posisi ganda, itu bisa diatur dalam pembagian tugasnya.


Masalah pembengkakan anggaran, semua ditanggung oleh negara. Sesudah mantap dengan rencana itu, diajukanlah program ini ke DPR untuk mendapatkan persetujuan mereka. Ternyata mereka menolak. Betul-betul menolak keras. Bahkan, ditolak mentah-mentah dengan sangat keras.



Alasannya, program ini menyengsarakan anggota DPR. Bayangkan, mereka akan berubah status dari wakil rakyat menjadi rakyat. (rhs)



www.okezone.com

Sabtu, 05 Februari 2011

Enaknya Jadi Jomblo

"Jomblo?"
"Hari gini Jomblo?". . . .
Itulah kata-kata yang sering saya ucapkan kepada teman2 saya yang "Jomblo".
"Sendiri tu?"
"bukannya anda juga seorang jomblo?"
itulah jawaban temen2 ketika saya mengatakan itu.

hahaha......
-Sama-sama jomblo rupanya-
tak apa lah, asal jangan sampai sama-sama gak punya duit, gak bisa beli rokok ntar.:P

Yach, bagi saya jomblo itu bukan sebuah masalah, tapi A.N.U.G.R.A.H. . .
Loch? Why?
Mau tau?
makanya jangan pacaran ja kerjanya!
jadi Jomblo sekali-kali.
haha, jangan marah, itu juga hak mu, dan aku juga punya hak.

Ketika aku menjadi jomblo, aku akan menganggap itu anugrah.
dan itu juga suatu rezeki dari allah.
coba bayangkan ketika saya pacaran, saya harus bawa pacar saya jalan2 malam minggu.
saya harus mengisi bensin, bahkan saya harus bayar makanan si pacar itu ketika kami makan malam atau makan pagi di malam minggu. . . . . . .

maaf, bukan berarti saya gak punya duit.
mungkin anda bisa tanyakan aja pada mantan-mantan saya,. . .
-sok punya mantan-
Apakah saya tidak punya DUIT?????
mereka pasti akan geleng2 kepala, karna malah mereka akan bilang saya adalah orang kaya, bahkan mereka akan menjawab, "dialah pacar saya yang paling kaya yang pernah saya miliki selama saya mengarungi dunia pacaran"wowwwww. . . .
dahsyat. . . .

Singkat cerita,
kenapa mesti pacaran kalo jomblo itu bahagia.

yaaa, kalo memang punya nyali, kalo memang loe tu cowok,
lamar dan nikahi si dia, jangan jadi bencong hanya ingin "Pacaran" Basi!!!!!!!!
kalo memang loe cewek......
minta nikah ja kenapa, jangan cuma bisa terkelepek-kelepek. . . . . Jadulll...

oke...oke.
cukup.
afwan, ini hanya isi otak, daripada kosong.
mendingan berisi.

By, BAA

Selasa, 01 Februari 2011

Urgensi Amal Jama'I

1.      Dustur Ilahi :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 3:104)
Dalam ayat ini Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara amal jama’i.
2.      Perjuangan Islam terlalu berat untuk dipikul secara individual karena perjuangan Islam bertujuan mengikis habis jahiliyah sampai ke akar-akarnya dan menegakkan Islam sebagai penggantinya.
Tanpa adanya struktur (tandzim) haraki yang setarap dengan struktur yang dihadapi (jahiliyah) dalam segi kesadaran, penataan dan kekuatan, tugas perjuangan Islam tak mungkin dapat dihasung meskipun dengan berpayah-payah dan pengorbanan seluruh kemampuan.
3.      Da’wah secara jama’ah adalah da’wah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.
4.      Beramal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi.
“Orang Mu’min yang satu dengan orang Mu’min lainnya seperti bangunan yang saling memperrekat.” (Muttafaq ‘alaih)
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maaidah 5:2)
5.      Beramal jama’i sebagai sarana mencapai keridhaan Allah
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seolah-olah mereka adalah bagunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff 61:4)
6.      Dengan amal jama’i balasan yang diberikan berlipat ganda
Allah SWT memberikan ganjaran yang besar kepada ibadah yang dilakukan secara berjamaah seperti shalat berjamaah dan sebagainya.
7.      Iman lebih terpelihara dalam lingkungan amal jama’i
Persatuan dalam amal jama’i merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran. Seorang diri bisa saja lenyap, jatuh atau disergap oleh syethan-syethan manusia dan jin. Tetapi jika ia berada di dalam Jama’ah maka akan terlindungi.
Seperti seekor kambing yang berada di tengah kawanannya. Tidak ada serigala yang berani memangsanya karena perlindungan kawanan itu sendiri. Serigala akan berani memangsanya manakala kambing itu keluar dari kawanannya atau berjalan sendirian.
“Kalian harus berjama’ah karena tangan Allah bersama Jama’ah. Barang siapa melesat sendirian maka ia akan melesat sendirian di neraka.” (Hadits)
“Sesungguhnya syethan adalah serigala manusia dan serigala itu hanya memakan kambing yang lepas (dari kawanan).” (Hadits)
“Kalian harus ber-Jama’ah, karena syethan itu bersama orang yang sendirian dan dia akan lebih jauh terhadap dua orang.” (Hadits)
8.      Kebathilan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir
Sumber: http://yahyaayyash.wordpress.com/2008/05/28/amal-jama%E2%80%99i/